Latindan Terjemahan Surat Al A'raf Ayat 35 يَٰبَنِىٓ ءَادَمَ إِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ رُسُلٌ مِّنكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ ءَايَٰتِى ۙ فَمَنِ ٱتَّقَىٰ وَأَصْلَحَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ Adayang mengatakan juga bahwa maksud Jabir: surat Al-Mudatsir adalah yang pertama kali turun yang disebabkan dengan peristiwa khusus (asbabun nuzul). Ada juga yang menyatakan: Jabir telah mengeluarkan yang demikian ini dengan ijtihadnya. Akan tetapi riwayat Aisyah lebih mendahuluinya. Jadi jika ada riwayat-riwayat lain yang shahih mendukung 1) the opinions of the . Ada pun arti dari surat al kahfi ayat 83 yaitu:. Contoh asbabun nuzul dalam bentuk peristiwa selanjutnya yaitu. Adapun asbabun nuzul surah albaqarah ayat 133 adalah "sebagai. "asbabun nuzul ayat ini adalah seperti yang dikatakan ali r.a.,"dan. "asbabun nuzul ayat ini adalah seperti yang dikatakan ali r.a.,"dan. DanTuhanmu agangkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah." (Al-Muddatstsir: 1 -5). Kemudian wahyu datang lagi dengan berturut-turut. Bukhari dan Muslim mengetengahkan hadis ini melalui Az-Zuhri dengan sanad yang sama. Isikandungan surah al muddatstsir ayat ke 42 hingga ayat ke ke 44 menjelaskan tentang golongan orang yang akan masuk neraka saqar. Dalam ayat tersebut dijel AlMudattsir: 1-7) Al-Mudattsir sama maknanya dengan Al-Muzammil, yaitu orang yang berselimut. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam biasa dipanggil dengan keadaan beliau atau sifatnya. Kadang beliau dipanggil dengan Ya ayyuhal muzammil, Ya ayyuhal mudattsir, Ya ayyuhan nabiyyu, Ya ayyuhar rasul. DutaIslamCom- Asbabun nuzul Surat al-Mudatsir ayat 1-2 berkaitan dengan kisah Nabi Muhammad setelah peristiwa di Gua Hira. Top Pdf 109 Tafsir Surat Al Kafirun Pdf 123dok Com Al Muddastir المدثر 1.. Pendapat ini merujuk pada riwayat Imam Bukhari dalam shahihnya. Surat Al Mursalat ayat 1-10 merupakan surat urutan ke-77 dalam Al-Quran dan LfPt. Ayat 1 dan 2, yaitu firman Allah ta’ala, “Wahai orang yang berkemul berselimut! Bangunlah, lalu berilah peringatan! al-Muddatstsir 1-2 Sebab Turunnya Ayat Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Jabir bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda, “Saya menyendiri di Gua Hira selama sebulan. Setelah selesai, saya lalu bermaksud turun ke bawah. Ketika berada di pertengahan bukit, tiba-tiba terdengar sebuah suara memanggil, tapi saya tidak melihat seorang pun. Akan tetapi, tatkala saya mengangkat kepala, tiba-tiba terlihat malaikat yang sebelumnya mendatangi saya. Saya langsung bergegas pulang. Sesampainya di rumah, saya lalu berkata, Selimuti saya!’ Allah lalu menurunkan ayat, “Wahai orang yang berkemul berselimut! Bangunlah, lalu berilah peringatan!'” Ayat 1-7, yaitu firman Allah ta’ala, “Wahai orang yang berkemul berselimut! Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan agungkanlah Tuhanmu, dan bersihkanlah pakaianmu, dan tinggalkanlah segala perbuatan yang keji, dan janganlah engkau Muhammad memberi dengan maksud memperoleh balasan yang lebih banyak. Dan karena Tuhanmu, bersabarlah.” al-Muddatstsir 1-7 Sebab Turunnya Ayat Imam Ath-Thabrani meriwayatkan dengan sanad yang lemah dari Ibnu Abbas bahwa suatu hari Walid ibnul-Mughirah membuat jamuan untuk orang-orang Quraisy. Tatkala mereka tengah makan, Walid berkata, “Apa pendapat kalian terhadap laki-laki ini Muhammad?” Sebagian lalu berkata, “Tukang sihir!” Akan tetapi, yang lain membantah, “Ia bukan tukang sihir!” Sebagian lain berkata, “Seorang dukun!” Akan tetapi, yang lain membantah, “Ia bukan dukun!” Sebagian berkata, “Seorang penyair!” Tetapi, lagi-lagi yang lain menyangkal, “Ia bukan penyair!” Sebagian yang lain lalu berkata, “Apa yang dibawanya itu Al-Qur’an adalah sihir yang dipelajari dari orang-orang terdahulu.” Tatkala Rasulullah mendengar ucapan-ucapan tersebut beliau langsung merasa sedih. Beliau lantas menutup kepalanya serta menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Allah lalu menurunkan ayat, “Wahai orang yang berkemul berselimut! Bangunlah, lalu berilah peringatan!” hingga ayat 7, “Dan karena Tuhanmu, bersabarlah.” Ayat 11, yaitu firman Allah ta’ala, “Biarkanlah Aku yang bertindak terhadap orang yang Aku sendiri telah menciptakannya.” al-Muddatstsir 11 Sebab Turunnya Ayat Imam al-Hakim meriwayatkan suatu riwayat yang dinilainya shahih dari Ibnu Abbas, “Suatu ketika, Walid ibnul-Mughirah mendatangi Rasulullah. Beliau lantas membacakan beberapa potong ayat Al-Qur’an kepadanya. Hati Walid terlihat seperti tersentuh terpengaruh dengan ayat-ayat tersebut. Ketika kejadian itu didengar oleh Abu Jahal, ia langsung mendatangi Walid dan berkata, Wahai Paman, sesugguhnya kaummu bermaksud mengumpulkan uang untuk diberikan kepadamu. Sesungguhnya engkau mendatangi Muhammad dengan maksud untuk menentang/merintangi apa yang telah kita sepakati sebelumnya.’ Mendengar hal itu, Walid lalu menjawab, “Sesungguhnya seluruh orang Quraisy mengetahui bahwa saya adalah orang yang paling kaya di antara mereka.’ Abu Jahal lantas berkata, Jika demikian, ucapkanlah sesuatu yang menunjukkan kepada kaummu bahwa engkau mengingkari seruan Muhammad dan membencinya.’ Walid lalu menjawab, Akan tetapi, apa yang harus saya katakan? Demi Allah, tidak ada seorang pun di antara kalian yang paling menguasai seluk-beluk syair dari saya, sebagaimana tidak ada yang lebih menguasai ilmu sajak, puisi, bahkan syair-syair jin ketimbang saya. Demi Allah, apa yang diucapkannya itu tidak sedikit pun menyerupai hal-hal tadi syair, sajak, puisi dan lainnya. Demi Allah, kata-kata yang diucapkannya itu sungguh menawan dan menarik hati. Apa yang dikatakannya itu bersinar di atasnya dan bercahaya di bawahnya. Kata-kata tersebut mahaagung, tidak ada yang dapat menandinginya. Ia juga melibas habis apa yang ada di bawahnya.!’ Mendengar ucapan Walid itu, Abu Jahal menjawab, Sungguh kaummu belum akan tenang sampai engkau mengucapkan sesuatu yang mencela Muhammad.’ Walid lalu berkata, “Beri saya kesempatan untuk memikirkannya.’ Setelah berpikir beberapa lama, tiba-tiba Walid berkata, Ini adalah sihir yang dipelajarinya dari orang lain!’ Tidak lama kemudian, turunlah ayat, “Biarkanlah Aku yang bertindak terhadap orang yang Aku sendiri telah menciptakannya.” Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan riwayat senada dari jalur yang lain. Ayat 30, yaitu firman Allah ta’ala, “Di atasnya ada sembilan belas malaikat penjaga.” al-Muddatstsir 30” Sebab Turunnya Ayat Ibnu Abi Hatim dan al-Baihaqi dalam kitab al-Ba’ts meriwayatkan dari Al-Barra’ bahwa beberapa orang Yahudi menanyakan kepada salah seorang sahabat Nabi saw. tentang para penjaga neraka. Sahabat tersebut lantas datang kepada Nabi saw. untuk menanyakannya. Pada saat itu juga turun ayat ini. Ayat 31, yaitu firman Allah ta’ala, “Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al Kitab dan orng-orang mu’min itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir mengatakan “Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?” Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia.” al-Muddatstsir 30 Sebab Turunnya Ayat Dari Abu Ishaq diriwayatkan bahwa suatu hari Abu Jahal berkata, “Wahai sekalian warga Quraisy, Muhammad menyatakan bahwa bala tentara Allah yang nantinya akan mengazab kalian di neraka berjumlah sembilan belas, sementara kalian berjumlah sangat banyak. Mungkinkah seratus orang dari kalian tidak mampu menghadapi satu dari mereka!” Allah lalu menurunkan ayat ini. Riwayat yang mirip dengan di atas juga diriwayatkan oleh Qatadah. Diriwayatkan dari Suddi, “Ketika turun ayat 30, Di atasnya ada sembilan belas malaikat penjaga,’ seorang laki-laki dari Quraisy bernama Abu Asydaq berkata, Wahai orang-orang Quraisy, janganlah kalian merasa gentar dengan sembilan belas malaikat tersebut. Dengan bahu kanan saya ini saja saya akan mengatasi sepuluh dari mereka, sementara yang sembilan lagi dengan bahu kiri.’ Allah lalu menurunkan ayat ini.” Ayat 52, yaitu firman Allah ta’ala, “Bahkan setiap orang dari mereka ingin agar diberikan kepadanya lembaran-lembaran kitab yang terbuka.” al-Muddatstsir 52 Sebab Turunnya Ayat Ibnul Mundzir meriwayatkan dari Suddi yang berkata, “Mereka orang-orang kafir Quraisy berkata, Sekiranya Muhammad memang benar maka bisakah ia mendatangkan, ketika kita bangun dari tidur di pagi hari, sebuah lembaran yang di dalamnya tercantum pembebasan kita dari neraka?’ Tidak lama kemudian turunlah ayat ini.” Sumber Diadaptasi dari Jalaluddin As-Suyuthi, Lubaabun Nuquul fii Asbaabin Nuzuul, atau Sebab Turunnya Ayat Al-Qur’an, terj. Tim Abdul Hayyie Gema Insani, hlm. 602 – 606. Post Views 3,964 Surat Al Kautsar الكوثر adalah surat ke-108 dan merupakan surat terpendek dalam Al Quran. Berikut ini terjemahan, asbabun nuzul, dan tafsir Surat Al Kautsar. Surat ini terdiri dari tiga ayat dan merupakan Surat Makkiyah, menurut mayoritas ulama. Ia adalah surat ke-14 atau ke-15 yang turun kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Yakni setelah Surat Al Adiyat dan sebelum surat At Takatsur. Ada sebagian ulama yang berpendapat surat ini Madaniyah karena di dalamnya memerintahkan inhar berkorbanlah. Sedangkan ibadah qurban disyariatkan setelah hijrah ke Madinah. Namun pendapat ini ditolak ulama lainnya karena sejak di Makkah sudah dikenal penyembelihan binatang sebagai pengorbanan. Dinamakan surat Al Kautsar yang merupakan nama sungai di surga dan dapat pula diartikan nikmat yang banyak, diambil dari ayat pertama dari surat ini. Surat ini juga dinamakan Surat An Nahr, diambil dari ayat kedua. Surat Al Kautsar dan ArtinyaAsbabun Nuzul Tafsir Surat Al KautsarSurat Al Kautsar ayat 1Surat Al Kautsar ayat 2Surat Al Kautsar ayat 3Penutup Berikut ini Surat Al Kautsar dalam tulisan Arab, tulisan Latin, dan artinya dalam bahasa Indonesia إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ . فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ . إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ Innaa a’thoinaa kal kautsar. Fasholli lirobbika wanhar. Inna syaani,aka huwal abtar ArtinyaSesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus. Baca juga Ayat Kursi Asbabun Nuzul Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu terkait asbabun nuzul Surat Al Kautsar. Bahwa Rasulullah menundukkan kepalanya sejenak lalu beliau mengangkat kepalanya seraya tersenyum. Para sahabat bertanya, “Mengapa engkau tersenyum ya Rasulullah?” Maka Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya telah diturunkan kepadaku suatu surat.” Lalu beliau membaca Surat Al Kautsar. “Tahukah kalian apakah Al Kautsar itu?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda هُوَ نَهْرٌ أَعْطَانِيهِ رَبِّى عَزَّ وَجَلَّ فِى الْجَنَّةِ عَلَيْهِ خَيْرٌ كَثِيرٌ يَرِدُ عَلَيْهِ أُمَّتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ آنِيَتُهُ عَدَدُ الْكَوَاكِبِ يُخْتَلَجُ الْعَبْدُ مِنْهُم فَأَقُولُ يَا رَبِّ إِنَّهُ مِنْ أُمَّتِى. فَيُقَالُ لِى إِنَّكَ لاَ تَدْرِى مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ Al Kautsar adalah sebuah sungai telaga yang diberikan kepadaku oleh Tuhanku di dalam surga. Padanya terdapat kebaikan yang baik. Umatku kelak akan mendatanginya di hari kiamat. Jumlah wadah-wadah bejana-bejananya sama dengan bilangan bintang-bintang. Diusir darinya seseorang hamba, maka aku berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya dia dari umatku.” Maka dikatakan, “Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang telah dibuat-buatnya sesudahmu.” HR. Ahmad; shahih Berdasarkan asbabun nuzul ini, sebagian ulama berpendapat surat Al Kautsar adalah madaniyah. Karena Anas bin Malik masuk Islam setelah Rasulullah hijrah ke Madinah. Namun ada pula yang berpendapat, surat ini turun di Makkah, lalu diturunkan lagi di Madinah. Ibnu Katsir dalam tafsirnya tidak memastikan apakah Al Kautsar ini makkiyah atau madaniyah. Asbabun nuzul yang lain, surat ini turun berkenaan dengan Ash bin Wail. Dia menghina Rasulullah sebagai abtar terputus karena putra beliau meninggal sehingga nasabnya terputus. Lalu Allah menurunkan surat ini memberitakan bahwa Ash bin Wail yang telah memusuhi Rasulullah itulah yang abtar. Peristiwa itu terjadi di Makkah sehingga menjadi hujjah bahwa surat ini merupakan surat Makkiyah. Baca juga Surat Yasin Tafsir Surat Al Kautsar Tafsir Surat Al Kautsar ini kami sarikan dari Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Fi Zhilalil Quran, Tafsir Al Azhar, Tafsir Al Munir, dan Tafsir Al Misbah. Kami berusaha mensarikan dari lima tafsir tersebut agar terhimpun banyak manfaat yang kaya khazanah tetapi tetap ringkas. إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ . فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ . إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus. QS. Al Kautsar 1-3 Baca juga Surat Al Lahab Surat Al Kautsar ayat 1 إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Kata a’thainaaka أعطينك berasal dari kata a’tha أعطى yang artinya adalah memberi. Biasa digunakan untuk pemberian yang menjadi milik pribadi seseorang. Kata al kautsar الكوثر berasal dari kata katsir كثير yang artinya adalah banyak. Bisa digunakan untuk menunjuk sesuatu yang bilangannya banyak, bisa pula untuk menunjuk sesuatu yang tinggi nilainya. Banyak makna al kautsar dalam ayat ini. Ada yang berpendapat maknanya adalah sungai di surga dengan berhujjah pada hadits di atas dan hadits-hadits sejenis yang menerangkan al kautsar. Ada yang berpendapat maknanya adalah keturunan Rasulullah sangat banyak. Merupakan dari lawan abtar, pada ayat terakhir. Meskipun putra-putra beliau meninggal semasa kecil, putri beliau Fatimah telah memberikan keturunan yang darinya Ali Zainal Abidin -yang selamat dari pembantaian di Karbala- kemudian memiliki banyak keturunan hingga saat ini. Ada pula yang berpendapat maknanya adalah nikmat yang banyak. Sebenarnya makna-makna ini tidak saling bertentangan. Al kautsar adalah nikmat yang banyak, yang diberikan Allah kepada Rasulullah, di antaranya adalah keturunan yang banyak dan telaga al kaustar di surga. Sehingga Sayyid Qutb menafsirkannya dalam Tafsir Fi Zilalil Quran “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak dan melimpah ruah, yang tidak bisa dihalangi dan tidak putus-putusnya. Baca juga Surat Al Waqiah Surat Al Kautsar ayat 2 فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Kata shalli صل adalah bentuk perintah dari shalat صلاة. Sedangkan kata inhar انحر berasal dari kata nahr نحر yang artinya pangkal leher, sekitar tempat meletakkan kalung. Dari sana muncul makna penyembelihan karena menyembelih unta itu di pangkal leher. Setelah diberi penegasan nikmat yang demikian banyak, maka Rasulullah diarahkan untuk mensyukuri nikmat itu dengan shalat dan berkorban. Qatadah, Atha’ dan Ikrimah mengatakan bahwa yang dimaksud ayat ini adalah mendirikan shalat idul adha dan menyembelih hewan qurban. Sedangkan Ibnu Jarir menjelaskan bahwa maknanya adalah jadikan seluruh shalatmu untuk Tuhanmu, dengan niat ikhlas hanya kepada-Nya, tidak kepada siapapun selain-Nya. Demikian pula jadikan hewan sembelihanmu hanya untuk-Nya, bukan untuk berhala-berhala. Itu semua kamu lakukan demi rasa syukur atas segala yang telah Dia berikan kepadamu berupa kemuliaan dan kebaikan yang tiada tandingannya. Dia mengkhususkan hal itu hanya untukmu. Syaikh Wahbah Az Zuhaili dalam Tafsir Al Munir menjelaskan, melalui ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk senantiasa shalat. Ini merupakan kebalikan dari sifat orang yang meninggalkan shalat pada Surat Al Ma’un. Allah memerintahkan shalat dengan ikhlas lirabbika, lawan dari shalat yang riya’ pada Surat Al Ma’un. Baca juga Surat An Nasr Surat Al Kautsar ayat 3 إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus. Kata syani’aka شانئك berasal dari kata syana’aan شنآن yang artinya adalah kebencian. Kata ini digunakan untuk menunjukkan kebencian yang bukan pada tempatnya dan yang lahir dari iri hati. Ayat pertama menetapkan bahwa Rasulullah bukanlah orang yang terputus dari nikmat Allah. Ayat terakhir ini menegaskan bahwa orang yang membencinya justru yang terputus dari nikmat Allah. Ayat pertama menetapkan bahwa Rasulullah memiliki keturunan yang banyak, yang bertolak belakang dari hinaan orang-orang musyrikin Makkah yang menyebut Rasulullah abtar. Ayat terakhir ini menegaskan bahwa orang yang menghina Rasulullah itu justru orang yang pada akhirnya abtar. Ash bin Wail yang suka menghina Rasulullah “biarkan dia, sesungguhnya dia abtar” akhirnya justru menjadi orang abtar karena semua anaknya mati. Ia juga abtar karena terputus dari sejarah, namanya tidak dikenal kecuali dengan kejelekan. Juga abtar karena terputus dari nikmat Allah. Para pembenci Nabi pasti abtar sebagaimana ayat ini, walaupun ia punya anak banyak. Walid bin Mughirah yang membenci Nabi, ia punya sebelas anak. Tapi anaknya tidak melanjutkan misi dan pandangan Walid sehingga ia bisa disebut abtar. Terputus dari keturunannya dan terputus pula dari kebajikan. Orang yang abtar, jika dihubungkan dengan al kautsar yang bermakna telaga surga, ia juga tidak akan bisa meminum dari sana. Baca juga Isi Kandungan Surat Al Kautsar Penutup Surat Al Kautsar adalah surat yang menjelaskan bahwa Allah memberikan nikmat yang banyak kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Di antara nikmat yang banyak itu, Allah memberikan keturunan yang banyak kepada Rasulullah dan telaga kautsar di surga nanti. Surat ini memberikan arahan taujih Rabbani agar Rasulullah mensyukuri nikmat itu dengan shalat dan berqurban. Shalat yang semata-mata karena Allah dan berqurban juga untuk Allah. Surat ini juga merupakan mukjizat yang menjadi bukti kebenaran Rasulullah. Bahwa siapapun yang membenci Rasulullah, dia akan terputus dari kebaikan dan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di dunia, mereka terputus dari rahmat Allah dan terputus dari keturunannya, sedangkan di akhirat kelak mereka tidak bisa minum dari telaga kautsar. Demikian Surat Al Kautsar mulai dari terjemahan, asbabun nuzul, hingga tafsir. Semoga semakin menambah kecintaan kita kepada Rasulullah serta memotivasi kita untuk mendirikan shalat dan berqurban. Wallahu a’lam bish shawab. [Muchlisin BK/BersamaDakwah] Asbabun nuzul Al-Ashr, sumber foto Al-Ashr merupakan surat pendek yang ada di dalam Al-Quran yang biasa dilafalkan saat menjalankan sholat fardu atau shalat sunnah. Surat ini memiliki asbabun nuzul yang membahas mengenai waktu seperti tafsir dari surat Al-Ashr. Berikut adalah asbabun nuzul dan tafsir dari Al-Ashr Nuzul Al-AshrDikutip dari buku Juz Amma for Kids, Meti Herawati 2015 38 asbabun nuzul dari surat Al Ashr menurut Muhammad Abduh berkaitan dengan kebiasaan dari masyarakat Arab. Di sore hari, mereka suka duduk dan bercakap-cakap membicarakan tentang berbagai hal dalam kehidupan sehari-hari. Banyak pula yang membanggakan asal usul nenek moyang mereka. Kedudukan serta harta kekayaan mereka yang mengakibatkan pembicaraan mereka tidak memiliki arah yang jelas dan seringkali menimbulkan pertikaian dan sebagian dari mereka ada yang mengutuk waktu Ashar. Menganggap waktu Ashar adalah waktu yang celaka, waktu yang naas, banyak bahaya yang terjadi pada waktu asar. Dari kejadian ini kemudian Allah SWT menurunkan surat Al-Ashr yang menjelaskan mengenai kerugian menusia yang menyia-nyiakan waktu Al-AshrIlustrasi tafsir Al-Ashr, sumber foto Al-Ashr yang terdiri dari tiga ayat ini memiliki tafsir sebagai berikut Ayat 1 bersumpah dengan menyebut masa. Masa berarti waktu yang dilalui, waktu yang dialami seseorang. Apabila Allah SWT, bersumpah dengan makhluknya berarti suatu isyarat bagi Rasulullah SAW dan orang-orang yang beriman agar memerhatikan terhadap makhluk yang digunakan untuk bersumpah. Dengan demikian, maksud ayat pertama surat ini adalah agar Rasulullah SAW dan orang-orang yang beriman lebih memerhatikan masalah waktu. Dan mampu memanfaat waktu sebaik-baiknya untuk hal-hal yang terpuji sesuai ajaran Islam. Kita sadari atau tidak, waktu itu tidak akan berhenti walaupun sedetik, apalagi terulang pagi hari ini bukan pagi hari kemarin bukan pula pagi hari 2 menjelaskan bahwa kebanyakan manusia dalam keadaan merugi. Kerugian yang dialami manusia adalah bahwa kesempatan di dunia tidak digunakan dengan 3 menjelaskan tentang cara yang harus ditempuh agar manusia tidak termasuk orang yang rugi. Dalam ayat ini ada tiga syarat agar orang tidak rugi, yaitu beriman dan beramal saleh, saling menasehati dalam hal kebenaran, dan saling menasehati tentang adalah asbabun nuzul dan tafsir surat Al-Ashr lengkap yang bisa kita pelajari bersama dan kita ambil hikmanya dari diturunkannya surat ini. WWN